Migrain Tak Kunjung Sembuh, Ternyata Ada Cacing Di Kepala Wanita Ini!

Migrain atau sakit kepala sebelah merupakan salah satu penyakit ringan namun memang mengganggu aktivitas kita. Tak heran jika orang cenderung lekas mencari obat yang tepat untuk mengobat migrain tersebut.

Namun, pernahkah kalian merasakan migrain yang berkepanjangan? Jika pernah atau sedang mengalami ini, sebaiknya lekas pergi ke dokter untuk mengetahui apa yang tengah terjadi pada kepala anda.

Jangan sampai seperti wanita berusia 25 tahun asal Australia yang sudah 7 tahun menderita migrain.

Awalnya, wanita yang diketahui bekerja sebagai seorang barista di sebuah kafe di kota Melbourne, Australia tersebut menganggap itu hanya migrain biasa.

Namun, penyakit tersebut tak kunjung mereda bahkan semakin parah. Sampai akhirnya dia merasa bahwa pengelihatannya mulai kabur dan sakit yang luar biasa. Wanita tersebut lantas memutuskan pergi ke Dokter.

Dokter lantas melakukan pemindaian MRI, saat itu ditemukan sesuatu sepanjang 8 Milimeter di dalam Lobus Okiptal di bagian kepala belakang wanita tersebut.

Operasi lantas dilakukan untuk mengangkat sesuatu yang diduga menjadi penyebab migrain berkepanjangan ini. Awalnya, para dokter yang melakukan operasi bedah mengira bahwa itu adalah kista, melainkan seekor cacing pita!

Dari tes DNA menunjukkan bahwa itu adalah Taenia Solium yang dikenal sebagai cacing pita babi, karena sering ditularkan ke manusia saat mengkonsumsi daging babi yang kurang matang.

Temuan ini adalah yang pertama, kasus Neurocysticercosis atau penyakit yang dikarenakan adanya infeksi pada sistem saraf pusat oleh larva cacing di Australia.

Sebelumnya, ada kasus serupa yang terjadi, namun menimpa seorang imigran atau penduduk yang baru saja bepergian ke wilayah Endemik. Sedangkan wanita tersebut sebelumnya belum pernah berkunjung ke daerah endemik seperti Negara-Negara Asia dan Amerika Latin.

Jadi, dengan kata lain wanita ini mengalami kejadian nahas tersebut karena tak sengaja mengkonsumsi cacing yang membawa larva.

“Dokter perlu menyadari bahwa dengan kemudahan dan frekuensi perjalanan dunia, penyakit yang sangat endemik di banyak negara bagian dunia bisa menimbulkan risiko bagi penduduk negara dengan endemisitas rendah,” jelas penulis studi tersebut yang dikutip dari Independent.

Leave a Comment